Oleh: budi mulyo | 03/12/2010

Potensi Wisata Surabaya


Potensi Wisata Alam Surabaya

Kota Surabaya yang selama ini dikenal belum mempunyai potensi Wisata Alam, pupus sudah pernyataan tersebut. Kawasan Bozem Wonorejo dan pantai mangrove (bakau), daerah timur Kota Surabaya adalah bukti adanya potensi Wisata Alam yang baru.

Bozem yang dibangun oleh Dinas P U dan Pematusan, selain difungsikan sebagai bendungan, dapat dimanfaatkan sebagai wisata air dan ekowisata. Ide untuk mengembangkan wisata air tersebut, sebagai upaya untuk memanfaatkan bozem atau waduk dalam skala kecil di Wonorejo, yang selama ini digunakan untuk mengendalikan banjir.

Dua bozem Wonorejo, masing-masing seluas 8.000 m², akan dilengkapi dengan sarana yang menunjang wisata air, contohnya alat pancing dan perahu. Dinas Pertanian dan Perairan Kota Surabaya juga menebar benih bandeng (nener) di bozem tersebut. Benih yang disebar ± 40.000 ekor dimaksudkan untuk mendukung wisata air, khususnya memancing di bozem tersebut. Walikota Surabaya sangat mendukung tentang ide pelaksanaan untuk memanfaatkan bozem sebagai tempat Wisata Alam.

Hutan Mangrove

Tidak hanya bozem Wonorejo saja yang dimanfaatkan sebagai potensi Wisata Alam, Hutan Mangrove yang ada di Kota Surabaya pun dijadikan tempat wisata. Memang masih terdapati beberapa kendala akan dana dan pembebasan lahan, mengingat banyak lahan mangrove yang sudah banyak dimiliki oleh pengembang lain. Semoga lancar dalam pembebasan lahan tersebut, berharap agar Kota Surabaya tidak hanya dikenal sebagai Kota Wisata Belanja, namun juga terkenal dengan Wisata Alam-nya.

Keberadaan Hutan Mangrove (bakau) di muara Kali Wonorejo menjadikan ekosistem di sana menjadi lebih baik, indah dan menyenangkan. Berbagai mahluk hidup, ikan dan sejenisnya akan menjadi makanan burung kuntul dan burung-burung lainnya. Diharapkan mereka berkumpul sepanjang hari dan menjadikan kawasan mangrove (bakau) itu sebagai tempat tinggalnya.

Daripada outbond di luar kota yang akan menelan biaya besar, mengapa tidak kita manfaatkan Wisata Alam di Surabaya ini untuk kegiatan outbond? Lebih hemat dan lebih leluasa karena berada di dalam Kota Surabaya.

Sumber : http://kerockan.blogspot.com/2010/02/potensi-wisata-alam-surabaya.html

Oleh: budi mulyo | 03/12/2010

Tempat menarik Di Surabaya


Beberapa kawasan menarik di Surabaya antara lain:

  • Kawasan minat khusus: Ampel (wisata religi), Taman Budaya Cak Durasim, Kya Kya Surabaya di kawasan Kembang Jepun, G-Walk, dan Pantai Kenjeran.
  • Taman: Bungkul dan Bratang.
  • Monumen dan museum: Tugu Pahlawan, Monumen Kapal Selam, Museum Mpu Tantular, Museum House of Sampoerna.
  • Bangunan bersejarah dan cagar budaya: Grahadi, Balai Kota Surabaya, Balai Pemuda, Internatio, Jembatan Merah, Kantor Gubernur Jawa Timur, Monumen Kapal Selam, Hotel Majapahit Mandarin Oriental, Pelabuhan Kalimas, Kantor Pelni, Gedung PTPN XXII, Gedung Bank Niaga, Gedung PT Artho Ageng Energi, Hotel Ibis Surabaya.
  • Atraksi: Kebun Binatang Surabaya
  • Pusat perbelanjaan:
    • Mall: Plaza Tunjungan, Surabaya Town Square, Mal Galaxy, Surabaya Plaza (Delta Plaza), Pakuwon Trade Center, Supermal Pakuwon Indah, Royal Plaza, Golden City Mall, Plaza Marina, Jembatan Merah Plaza, City of Tomorrow, Empire Palace.
    • Modern: Sinar Supermarket 24 jam, Sinar Jemursari, Carrefour Golden City, Carrefour BG Junction, Carrefour Center Point, Carrefour Rungkut, Carrefour Ahmad Yani, Makro Tandes, Makro Waru, Giant Maspion Square, Giant Mayjend Sungkono, Giant Mulyosari, Giant Wiyung, Hi-Tech Mall (pusat komputer), Tunjungan Electronic Center, World Trade Center (pusat ponsel), Jembatan Merah Plaza (JMP) dan Pusat Grosir Surabaya (PGS).
    • Tradisional: Pasar Atom, Pasar Turi, Darmo Trade Center (DTC), Pasar Tambah Rejo Baru, Pasar Genteng, Pasar Kapasan.

Oleh: budi mulyo | 03/12/2010

Potensi Wisata Surabaya Dilirik India


Sebanyak 15 biro perjalanan wisata (BPW) dari India melakukan penjajagan untuk  kunjungan wisata rutin ke Surabaya.

Kedatangan 15 biro perjalanan wisata (BPW) asal India tersebut disambut Yusak Anshori selaku Executive director Surabaya Tourism Promotion Board dan melakukan welcome dinner di Surabaya Plaza Hotel. Kunjungan mereka berlangsung 4 hari dan berakhir Selasa (1/12’09). Perwakilan BPW India tersebut guna mengadakan familiarization trip (famtrip).

Menurut Yusak Anshori, pihaknya senang menyambut kedatangan ke 15 BPW India ini guna pencitraan yang baik untuk pembangunan wisata Surabaya kedepan. Selain Surabaya, promosi wisata Jatim juga diperkenalkan sehingga ketika kembali ke India, mereka bisa menjual paket wisata di Surabaya dan Jatim. “Dengan melihat sendiri bagaimana Surabaya dan Jatim, kami optimis semakin luas pasar yang bisa digali untuk mendatangkan wisatawan ke sini,” ujar Yusak.

Hanya 4 hari di Surabaya memang terbilang singkat untuk bisa menjelajah semua obyek wisata termasuk di Jatim. Karenanya ke 15 orang India ini jadwalnya cukup padat untuk mengikuti city tour. Mereka telah melihat Monumen Kapal Selam, House of Sampoerna dan Balai Pemuda. Khusus di Balai Pemuda, disajikan kesenian Reog. Para perwakilan BPW India ini juga diajak mampir ke Tunjungan Plaza dan berkeliling ke kota modern di Surabaya Barat.

Sumber : http://surabayakita.com/index.php?option=com_content&view=article&id=247:potensi-wisata-surabaya-dilirik-india&catid=34:peristiwa-kita&Itemid=53


Jakarta (ANTARA News) – Enam wartawan Jerman, Rabu, mengunjungi Kota Surabaya, Jatim, untuk mengenal lebih dekat potensi pariwisata Kota Pahlawan itu.

Enam wartawan Eropa yang terdiri dari Andreas Srenk dari kantor berita Jerman (Deutsche Presse Agentur/DPA), Karsten Kammholz dari harian Die Welt, Roland Westphal mingguan Horzu, Maria Zsolnay dari harian Munchner Merkur, dan Franz Lerchenmueller dari mingguan Sonntag Aktuell, serta Silke Schweer-Lambers dari harian WAZ itu akan berada di Surabaya dalam beberapa hari.

Selama di Surabaya, keenam wartawan akan melakukan city tour (wisata kota), termasuk menyinggahi House of Sampoerna dan Gunung Bromo. Mereka juga telah dan akan melaporkan mengenai potensi wisata Surabaya kepada publik Jerman melalui berita-berita di media tempatnya bekerja.

Executive Director Surabaya Tourism Promotion Board (STPB) Yusak Anshori yang berkenan menerima enam wartawan itu menyatakan, rombongan wartawan dari Jerman ini membuka peluang bagi STPB dan Surabaya memperkenalkan potensi wisata.

“Kalau dulu wisatawan Eropa hanya melewati Surabaya, tetapi sekarang sudah mulai menginap. Artinya kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk mempromosikan Kota Surabaya.” kata dia.

Menjawab pertanyaan salah satu wartawan Jerman mengenai larangan bagi maskapai Indonesia terbang di langit Eropa, Yusak mengatakan bahwa STPB terus mempromosikan Surabaya melalui perusahaan-perusahaan penerbangan asing yang melayani penerbangan langsung ke Surabaya seperti Value Air / Singapore Airlines, Cathay Pacific, Malaysia Airlines, dan Royal Brunei.

Jadi, kata dia, turis-turis Eropa tetap bisa datang ke Jawa Timur, khususnya Surabaya melalui maskapai-maskapai asing yang melayani penerbangan langsung ke Surabaya.

Menurut data STPB, wisatawan jerman yang berkunjung ke Surabaya pada 2007 mencapai 1.812 orang, naik 26,8 persen dari 2006 yang sejumlah 1.674 orang.

Kata Yusak, jumlah wisatawan Jerman menempati urutan ke 11 terbanyak di antara negara-negara asal wisatawan yang mengunjungi Surabaya dan Jawa Timur.

Sumber : http://www.antara.co.id/print/1221065923


Pariwisata Surabaya dan Entrepreneurship

Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki peranan penting dalam pariwisata RI, khususnya menyambut Visit Indonesia Year 2008. Upaya promosi di dalam dan luar negeri maupun perhelatan even dan atraksi pariwisata secara regular mulai gencar diadakan, terutama sejak terbentuknya Surabaya Tourism Promotion Board (STPB) akhir 2005.

Namun, beberapa obyek wisata masih tampak kotor, tidak terawat dan melakukan promosi asal-asalan. Memang setiap akhir pekan ataupun liburan, atempat-tempat wisata seperti Kenjeran, Kebun Binatang Surabaya, THR ataupun Monkasel dijubeli banyak pengunjung. Namun kebanyakan dari mereka adalah wisatawan domestik (wisdom). Jarang dijumpai wisatawan mancanegara (wisman) ada di tempat-tempat tersebut. Warga Surabaya sendiri jarang menjumpai wisatawan asing berjalan-jalan di jalan protokol di kota Surabaya, seperti halnya yang terjadi di Bali atau Yogya.
Sejauh ini, di Surabaya sudah ada banyak pengusaha yang bergerak di sektor pariwisata. Namun kebanyakan bergerak di bidang biro perjalanan wisata (BPW), travel agent, hotel dan restauran. Eksistensi mereka hanya berfokus untuk melayani keperluan wisatawan yang datang, wisman maupun wisdom, dan tidak menciptakan atraksi baru. Dampaknya, keberadaan wisatawan di Surabaya hanya dinikmati oleh sekelompok golongan tertentu. Masyarakat Surabaya secara umum tidak bisa merasakan dampak ekonomi secara langsung.
Penyebabnya antara lain, pertama, kurangnya variasi produk. Dengan kondisi potensi wisata alam dan budaya yang selama ini dimiliki Surabaya, tidak banyak pelaku pariwisata yang mampu membuat paket-paket tour yang menjual aset wisata kota Surabaya. Paket city tour yang seringkali dijual oleh BPW hanyalah mengunjungi tempat-tempat wisata di Surabaya tanpa memberi makna lebih di balik perjalanan itu, misalnya dengan memakai tema-tema dalam paketnya.
Sebagai perbandingan kota Melbourne, Australia, misalnya. Kota yang luasnya lebih kecil dari Surabaya itu, di dalamnya ada banyak paket wisata yang menjual kota dengan menggunakan tema yang beragam, seperti shopping tour, ghost tour (wisata hantu-hantu di malam hari), heritage tour (mengunjungi bangunan-bangunan tua), culinary tour (berkunjung ke tempat-tempat makan favorit), night life tour (melihat kota di malam hari) seperti berkunjung di Kebun Binatang atau Museum di malam hari, river tour (wisata sungai), museum tour, suburban tour (wisata ke kawasan-kawasan hunian yang unik), dan masih banyak paket tour lainnya. Uniknya satu tema tour bisa dilayani lebih dari 1 tour operator, sehingga kualitas layanan bisa bersaing dan mutunya terjamin
Di Surabaya, ada banyak hal yang bisa digali untuk membuat paket city tour. Surabaya utara dengan kekhasan bangunan tua, Pecinan, kampung Bubutan dan kampung Arab, bisa dijual dengan paket wisata budaya. Surabaya utara juga memiliki potensi khas dengan adanya pelabuhan tradisional Kalimas. Pengemasan Sungai Kalimas sebagai aset wisata kota Surabaya juga menjadi agenda yang mendesak. Sementara itu, keberadaan pusat-pusat perbelanjaan modern, menjadi pendukung paket wisata belanja. Berdasarkan pengamatan, selama ini kebanyakan paket yang dijual BPW adalah golf dan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition). Memang tidak ada salahnya dengan wisata golf dan MICE. Namun dampak secara langsung bagi masyarakat umum sangatlah kecil, bahkan mungkin tidak ada.

Kedua, lemahnya manajemen di kawasan wisata di Surabaya, khususnya masalah kebersihan dan keamanan. Sebagian besar tempat wisata di Surabaya dikelolah oleh Pemkot melalui UPTD. Kesadaran akan kualitas tempat wisata, baik dari segi tampilan, penataan ruang, kebersihan toilet maupun keamanan, kerap diabaikan. Sementara, 3 hal sangat dibutuhkan oleh wisatawan, yaitu kebersihan, keamanan dan keakuratan informasi.
Dari segi nilai historis, atraksi dan makna budaya, keberadaan Tugu Pahlawan, Monkasel, Kebun Binatang, Patung Joko Dolog, Grahadi, Pantai Kenjeran dan pelabuhan tradisional Kalimas memiliki potensi untuk menarik wisatawan. Sayangnya, lemahnya manajemen di tempat-tempat tersebut membuat banyak wisatawan, asing khususnya, enggan berkunjung ke sana,
Ketiga, kurang adanya fasilitas pendukung wisatawan di dalam kota. Fasilitas pendukung bertujuan untuk mempermudah wisatawan, asing khususnya, bergerak dari satu tempat ke tempat lain secara mandiri tanpa bantuan dari travel agent. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah informasi akurat tentang tempat-tempat yang menarik di Surabaya yang bisa diakses dengan mudah. Semacam Tourist Information Center.
Entrepreneurship
Ketiga persoalan di atas berakar pada lemahnya semangat dan praktik kewirausahaan dalam pengelolaan pariwisata. Dr. Ir. Ciputra, pendiri dan pemilik Ciputra group, menyatakan, kewirausahaan tidak selalu identik dengan pemilik bisnis. Ada 4 kategori kewirausahaan, yaitu business entreprenuer (pemilik usaha dan profesional), government entreprenuer, social entreprenuer dan academic entreprenuer. Benang merah dari 4 klasifikasi itu adalah, mampu membuat perbedaan, perubahan dan pertumbuhan positif dalam profesi dan pekerjaan mereka. Berdasarkan klasifikasi tersebut, pembangunan pariwisata Surabaya membutuhkan 3 bentuk kewirausahaan, yaitu business entreprenuer, government entreprenuer dan academic entreprenuer.
Dari sisi business entreprenuer, dibutuhkan pebisnis ataupun profesional yang mampu menyulap tempat-tempat yang sepertinya tidak beharga menjadi aset yang luar biasa. Seperti yang dilakukan Pak Ci dengan menyulap kawasan yang dulunya kumuh, menyeramkan dan bahkan konon dipakai sebagai pembuangan jin, menjadi Taman Impian Jaya Ancol.
Dari sisi government entreprenuer, harus dapat membuktikan bahwa melalui pariwisata, masyarakat bisa hidup damai dan sejahtera. Karena itu, penataan ‘sektor marginal kota’ seperti PKL, pasar tradisional atau stren kali, perlu dilakukan secara bijaksana. Dalam hal ini, relokasi ‘sektor marginal kota’ merupakan langkah terakhir. Renovasi lebih harus menjadi pilihan utama. Pun halnya, keberadaan pasar tradisional di pusat kota, seperti pasar Keputran dan Pandegiling, dapat dipahami sebagai aset wisata. Banyak kota tujuan wisata di dunia, seperti Melbourne dan Bangkok, memiliki pasar basah di tengah kota.
Yang tidak kalah penting adalah academic entrepreneur. Banyak institusi pendidikan pariwisata berdiri di Surabaya, mulai SMK kejuruan, diploma, hingga level sarjana. Sayangnya orientasi mereka untuk mencetak lulusan yang menjadi pekerja pariwisata. Jarang ada institusi yang berfokus untuk membekali lulusannya memiliki semangat dan kemampuan kewirausahaan di bidang pariwisata khususnya. Bila ini terus terjadi, maka niscaya kondidi pariwisata kota Surabaya tidak akan banyak perubahan, karena belum banyak orang-orang yang mampu menangkap peluang menjadikan suatu tempat atau keadaan menjadi aset wisata kota. Semisal, menyulap LP Kalisosok menjadi tempat tujuan wisata sejarah seperti bekas penjara Alcatras di Amerika Serikat dan Melbourne Old Gaol di Australia. Dalam hal ini bila semua kategori Entreprenurship yang ada bisa diaplikasikan dengan baik, maka niscaya pariwisata surabaya akan semakin cemerlang, sesuai dengan semboyannya “Sparkling Surabaya”.

Sumber : http://www.ciputra.org/node/92/pariwisata-surabaya-dan-entrepreneurship.htm

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.